Minggu, 16 Desember 2012
Vegie Chicken Nugget
Selasa, 04 Desember 2012
Catatan Emak Rempong Part II
- Saat awal perjanjian kerja terang-terangan nego harga dan kasih tahu job desknya dia. Kalau perlu ditulis or di ketik deh tuh job desk. Dan kalo perlu juga perjanjian kerja juga ditulis dan di tanda tangani deh. Itu kalo dapet ART yang bisa baca tulis yah.
- Waspadalah saat udah mulai musim pulang kampung. Siap-siap si ART bakal ga balik lagi. Dan beberapa hari sebelum tanggal ART balik lagi ke tempat kita kalau dia nggak kasih kabar, langsung anggap dia ga balik lagi ke tempat kita dan segera cari penggantinya.
- Kita boleh baik sama ART tapi juga harus tetap jaga jarak sama dia. Tegaskan kalau kita itu tetap majikannya dia yang harus dia hargai. Jadi jangan sampai saking baiknya, kita malah dikerjain sama dia.
- Libatkan suami dalam urusan ini. Biasanya si ART tuh paling seggan sama suami kita. Jadi kalau nego atau nasihat atau omelan udah mentok, barulah pakai senjata pamungkas ini yakni suruh suami yang ngomong hal yang sama dengan apa yang telah kita sampaikan, Insya Alloh ART bakal manut.
Senin, 03 Desember 2012
Catatan Emak Rempong part I
Mulai lahiran cerita perjuangan ala perang kemerdekaan sudah dimulai.
Dari mulai si Ilmi yang kediagnosa infeksi paru-paru yang berakhir di inkubator selama 8hari dan ternyata berujung kepada mal praktek karena selama dirawat di NICU si Ilmi kakinya tiba-tiba luka-luka seperti kebakar. Ember alias emosi berat. Naluri ibu memang tidak bisa dibohongi. Melihat hal tersebut merupakan pertanda something wrong langsung aja aku bertindak cepat dan segera memindahkan Ilmi ke rumah sakit lain dengan dokter yang lain pula. dan ternyataaaa Ilmi cuma kena alergi dingin doang dan ga perlu masuk NICU.... beteeeeee
Pesan Moral: Jadilah pasiean yang cerdas dan jangan mudah percaya dengan treatment ataupun obat yang diberikan oleh dokter. Biarin deh kita dikatain cerewet tapi yang penting kita harus tau fungsi dan resiko dari segala treatment dan obat yang diberikan. Kalau dokter menolak untuk memberi tahukan hal-hal yang memang menjadi hak pasien mending buru-buru cabut dan cari dokter lain deh.
Setelah keluar dari rumah orang tua (biasa lah di Indonesia kan kalau lahiran kebanyakan pertama-tama harus di rumah orang tua dulu). Mulai lah perjuangan berikutnya...
Beloved eyang putri yang agak ga percaya dengan anak semata wayangnya bisa gak dia urus anak harus segera diberikan pembuktian. Mulai lah berjuang dan dengan dibantu oleh beloved tetangga ku super baik hati maka aku berjuang buat bikin gemuk si Ilmi dan walhasil si Ilmi langsung overweight walaupun hanya ASI eksklusif. Horeeee....gak protes lagi deh eyang putrinya. Tadinya eyang putri yang suruh pakai sufor lah, di suruh dikasih makan pisang lah, di kasih air putih lah, semuanya gagal....horeeee Ilmi lulus ASI eksklusif..peluuuuk ciuuuuum
Pesan Moral: Jangan mudah menyerah untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Memang berat cobaannya dan di situ lah letak perjuangannya. Tapi....kalau sudah lulus... wuiiiih bahagianya ngalahin dapet medali emas olimpiade....sujud syukur nya sampai nangis-nangis...ASI eksklusif itu adalah pemberian ASI saja selama 6 bulan lamanya tanpa ada intervensi cairan atau asupan apapun (walaupun si Ilmi sempat sih kena kontaminasi satu botol sufor karena masuk rumah sakit trus kena breastmilk jaundice). Pokoknya jangan percaya deh kata orang kalau bayi tuh harus di kasih kopi lah, di kasih teh lah, di kasih pisang lah. Pokoknya selama 6 bulan ASI saja!! Kecuali kalau mau cairan tambahan Cuma boleh toleran sama cairan imunisasi polio itupun kan Cuma setetes.. yihiii
Selasa, 29 Maret 2011
Berguru kepada ibu
Kemarin adalah pembagian progress report murid-murid ku. Pengalaman ku bertemu dengan orang tua murid secara exclusive dengan para orang tua murid tersebut untuk yang pertama kalinya. Yah, memang ternyata setelah ditelisik lebih jauh, karakter para muridku ternyata tidak beda jauh dengan orang tua nya ataupun kondisi rumahnya. Aku baru menyadari bahwa ternyata menjalani tugas sebagai orang tua itu tidaklah mudah. Perlu kehati-hatian dalam bertingkah laku dan mendidik anak. Tabiat anak sangat bergantung dengan tabiat orang tuanya. Haduh…semakin pusing aku dibuatnya.
Menjadi guru juga sama saja. Orang pikir menjadi guru adalah pekerjaan yang mudah. Namun, guru yang macam apa? Kalau meniatkan diri untuk menjadi guru yang baik yang bukan hanya sekedar mentransfer ilmu saja, tapi juga sekaligus mendidik anak hal tersebut bukanlah merupakan perkara yang mudah. Aku yang masih umur kencur dalam dunia pendidikan harus naik level dengan segera mengimbangi para orang tua yang umurnya sudah berkali-kali lipat dibandingkan aku. Tentunya mereka sangat paham akan asam garam kehidupan, sedangkan aku? Bolehlah anggap aku anak kemarin sore yang baru sedikit merasakan kehidupan. Pusing aku dibuatnya, mau menasihati tapi mereka lebih tua daripada aku, mau tidak menasihati tapi aku perlu menasihati mereka demi kebaikan murid-muridku. Haah…pusing.
Awalnya aku tidak menyangka menjadi guru sebegini pusingnya. Aku pikir aku hanya mengajar dikelas, memberikan nilai, beres perkara! Tapi ternyata tidak hanya sampai disitu saja, perjalananku masih panjang bo! Yah sudah kepalang basah jadi guru, yah langsung aja terjun bebas sekalian nyemplung beneran.
Hari itu aku langsung berubah profesi sementara, dari hanya sekedar guru biasa berubah menjadi psikolog keluarga. Haduuuh..kalau dibayangin sekarang aku juga heran kenapa bisa melewati hari itu dengan baik-baik saja. Hahaha….. bayangkan saja aku yang masih anak kemarin sore ini bisa berbicara dengan orang tua murid yang umur dan pengalamannya berkali-kali lipat dneganku. Aku menasihati mereka bukan karena aku banyak pengalaman, tapi hanya bermodal sering dengar pembicaraan orang (ternyata jadi tukang nguping ada manfaatnya juga kadang-kadang..hehehe), baca buku, nonton TV. Itu Tok! Pengalaman? Nol besar. Kalau ada orang tua yang tau tentang hal ini, mereka pasti sudah ogah lagi bicara denganku, aku bicara semua berdasarkan teori.
Dan ternyata memang benar menjadi orang tua maupun guru yang baik tidak lah mudah. Semua tindak tanduk kita ditiru oleh anak-anak kita. Murid yang pintar ternyata saat ditelisik lebih jauh mempunyai orang tua yang super pintar, dalam arti orang tua yang selalu mendukung dan memotivasi dia sepenuhnya. Tidak melulu harus professor ataupun petinggi Negara, tapi orang tua yang pintar adalah orang tua yang tahu bagaimana memotivasi anaknya untuk mau menghadapi dunia dan mau bangkit jika anaknya terjatuh. Sebaliknya, murid yang super bodoh di sekolah sebenarnya bukan karena dia tidak bisa tapi ternyata berangkat dari keluarga yang tidak dapat mendukung dia sepenuhnya, entah karena dia tidak mendapat dukungan, atau dia mengalami ketidaknyamanan dirumahnya, atau faktor lain.
Ternyata, saat aku meninjau lebih dalam, menyayangi seorang anak bukanlah harus selalu memanjakan dia dengan mengabulkan ratusan atau bahkan ribuan permintaan dia. Bahkan tanpa disadari oleh para orang tua, tindakan tersebut malah cenderung merupakan tindakan tidak menyayangi anak.
Sebaliknya, bertindak tegas (namun tidak dengan kekerasan), disiplin, terus memotivasi, yang mungkin akan dianggap anak sebagai tindakan yang menyebalkan, membuat anak bête, tapi itu justru merupakan sebuah bentuk kasih sayang terhadap anak.
Saat aku memilih profesi sebagai guru ini, aku baru menyadari sepenuhnya bahwa ternyata hal ini merupakan bentuk rasa terima kasih ku terhadap kedua orang tua ku yang menjadi teladan bagiku. Berangkat dari pengalamanku mengalami pendidikan dari mereka, aku bisa dengan mudah memberikan motivasi kepada murid-murid atau pun orang tua mereka. Aku selalu mencontoh cara mendidik mereka untuk kukatakan kepada murid-muridku ataupun orang tua mereka.
Ibu, Bapak, I really thank to you for your dedication to raise me so that I can motivate people easily. I take all of your way of educating me to give the parents suggestions. I couldn’t do anything except saying thank you and I love you so much.
Tanpa Ibu dan Bapak ku yang super aku mungkin bukanlah siapa-siapa. Aku mungkin tidak bisa memotivasi anak-anak murid ku bahkan orang tua mereka. Tanpa semua pengalaman pahit yang pernah kurasakan, aku mungkin tidak bisa menjadi manusia yang kuat menahan badai, yang bisa terus meneriakan kata-kata perjuangan untuk mengarungi hidup.
Biarkanlah anak kita mengalami susahnya dunia, dampingilah mereka, motivasi mereka bahwa kalau kita keras terhadap dunia maka dunia akan lunak terhadap kita*. Biarkan dia merasakan sakitnya terjatuh untuk tahu bagaimana enaknya bisa berdiri. Motivasi dia untuk bisa berdiri sendiri, jangan tuntun dia selalu. Biarkan anak kita merasakan lelahnya kerja keras untuk tahu bagaimana manisnya hasil yang memuaskan dari hasil kerja kerasnya.
Ibu dan Bapak ku tercinta, aku banyak salah, kalian juga manusia biasa, namun dibalik keterbatasan itu semua kalian, kita, telah mampu memaknai dunia.
Terima Kasih
Kamis, 18 Februari 2010
TAKDIR AMOEBA
aku hanya ingin dapat melaju kencang tanpa melupakan batas kecepatannya
aku hanya ingin menjadi besar dan disegani
aku hanya ingin menjadi kuat dan ditakuti
tapi
aku hanyalah makhluk kecil tak berdaya
aku bukanlah apa-apa
aku tak mampu menanggung beban berat
aku terlalu naïf
namun,
tak bolehkah aku berharap dapat terbang tinggi?
tak bolehkah aku berharap dapat melaju cepat?
tak bolehkah aku berharap dapat menjadi besar?
tak bolehkah aku berharap dapat menjadi kuat?
kenapa aku harus menjadi kecil?
kenapa aku harus menjadi kerdil?
kenapa aku tidak pernah terlihat?
aku hanyalah makhluk tak berdaya
tak ada yang pedulikanku
walau ku tahu aku sangatlah penting
walau ku tahu aku sangatlah berbahaya
kenapa semua mengabaikanku?
kenapa semua mengenyahkanku?
kenapa semua tidak mempedulikanku?
ketika semua pertanyaan itu kuajukan
hanya satu jawaban kutemukan
TAKDIR
takdir melahirkanku menjadi kecil
takdir melahirkanku menjadi terabaikan
takdir melahirkanku menjadi tak terlihat
tapi ku yakin takdir
takdir melahirkanku menjadi berbahaya
takdir melahirkanku menjadi penting
takdir melahirkanku menjadi pelengkap
takdir pula yang melahirkanku menjadi alat petunjuk kebesaran Tuhan
aku tahu Tuhan Maha Besar
maka Ia menakdirkan menjadi begitu kecil
(kamar 11.45pm 18022010)
Mengakar Karang
Kepak
Merpati kuat mengepak
Meyakini jawab pasti tersingkap
Menyingkirkan gundah dihadap
Yakinkan diri berdiri tegap
(kamar 01:05 WIB 08.01.2009)
Rabu, 23 Desember 2009
DOA KAMI
Terimakasih…
Terimakasih Kau menjadikan hidup ini penuh liku
Agar kami paham apa arti anugerah..
Tuhan…
Terimakasih…
Terimakasih Kau jadikan semua hal tak mudah kami raih
Agar kami kenal arti sebuah usaha..
Tuhan…
Berikan kami kesempatan…
Berikan kami waktu…
Kami berjanji akan menjadi pejuang-Mu yang tangguh
Bantu kami Tuhan…
Tuhan….
Kami akan terus berusaha…
Tolong hadiahi usaha kami dengan harapan…
Jadikan harapan kami nyata indahnya…
Kami tidak tahu yang terbaik untuk diri kami…
Yang kami tahu hanya yang kami ingini..
Tuhan…
Kau-lah yang Maha Mengerti…
Lebih mengerti dibanding urat nadi kami…
Kami akan terus berusaha…
Hingga Kau izinkan kami merengkuh bahagia-Mu yang abadi…
Terimakasih Tuhan…
Kau jadikan hidup kami berliku…
Agar kami paham hidup ini punya makna…
(kamar, 23.12.2009)
Jumat, 11 Desember 2009
Luka
Gamang terasa menapak sebuah kebimbangan
Perih terasa hampa mengudara hingga merasa tak ada lagi asa disana
Namun haruskah ini terus berlanjut?
Hingga diri terus terhanyut?
Tak terbayangkan perih terasa mengenang semua yang ada
Namun kaki ini harus terus melangkah
Walaupun diri tak kuasa berdiri namun harus sanggup aku tapaki hari
Langkahkan kaki hingga tiba di ujung hari
Tercabik sudah untuk kesekian kali sebuah hati kecil yang tak kuasa menahan segala perih
Namun sekali lagi berulang kali hati tergoreh luka
Dan sekali lagi pula diri harus tangguh berdiri
Dalam gamang butuh rasa sayang namun tersadar diri tak mampu memohon langit
Menatap mega menyambut hampa
Tersadar segala aral harus terlewati
Dengan diri walau tercabik harus terlewati
Kuatkan diri
Tangguhkan hati
Tapaki hari
Hingga dapat ku songsong kembali cita ku yang kunanti
(Kamar 25.02.2009 20:15)
Kamis, 10 Desember 2009
te quiero
Porque tu amor es un poem realmente bonito
No puedo escribir una carta de amor
Porque tu amor es una real carta de amor
Celebro San Valentin los todos contigo
Muchas gracias mi novio
I te quiero!
I can’t make a beautiful poem
Because your love is the real beautiful poem
I can’t write a love letter
Because your love is the real love letter
I celebrate a Valentine day everyday with you
Thank you very much my beloved
I love you
( Spanish class, 24.03.2009 15.45)
Simpang
Simpang hantarkan kebimbangan
Mengawang tanpa dapat melawan
Mengakar bimbang dalam kalbu setaman
Hingga terurai gundah menelisik imaji
Hantarkan sepi dalam ruang sulbi
Berurai mimpi yang tak pasti
Menanti kabar di ujung tepi
Tersingkap realita tanpa hati
Mencaci hingga diri tersadar
Akan asa tergantung tinggi
Tak dapat terhalang gundah terperi
Ataupun bimbang diatas simpang
(Kansas 14:05 WIB 07.01.2009)
perempuan dan adam
Tahukah kamu saat kita menatap mega kita akan menemukan imaji disana?
Tahukah kamu saat kita menatap bumi kita akan menemukan nurani disana?
Ketika kita menatap mega kita akan tahu bahwa kita tak selamanya dapat bertahan mendongak
Ketika kita menatap bumi kita akan tahu bahwa kita tak selamanya dapat bertahan merunduk
Tahukah kamu saat kita melihat hawa kita akan menemukan rusuk kita disana?
Tahukah kamu saat kita menyadari kita adalah adam kita akan menemukan kepala kita disana?
Ketika adam melihat hawa, adam akan sadar bahwa hawa bukan tulang belikat adam, bukan tulang kaki adam, bukan pula tulang selangkang adam
Hawa adalah tulang rusuk adam terletak disamping adam mendampingi adam tidak membelakangi adam tidak menuntun adam namun adam biarkan dia menginjak, tapi tidak melangkahi adam
Tapi hawa mendampingi adam dia tulang rusuk adam
Ketika adam menyadari dia adam dia akan tahu bahwa dia punya kepala. Dia punya pemikiran dan juga pikiran, dia dapat menatap mega tegak menengadah dan seringkali lupa merunduk, lupa punya nurani. Terkadang dia juga tidak sadar bahwa dia punya tulang..kepalanya tidak akan tegak tanpa tulang leher, tulang lehernya tidak akan kuat tanpa rusuknya, parunya tidak akan kuat tanpa rusuknya, jantungmu akan berhenti berdetak tanpa rusukmu
Adam perlu rusuk…jangan pindahkan rusuk adam ke belikatnya, ke kakinya, ataupun ke selangkangnya
Ketika kita menatap mega kita selalu menemukan imaji tapi terkadang kita tidak sadar bahwa kita bertopang pada bumi
Ketika kita menatap bumi kita selalu memelihara nurani tapi terkadang kita lengah tak sadar kalau kita harus menatap mega mengawasi dia. Mensyukuri mega
Kepala butuh rusuk
Mega harus menaungi bumi
Bumi mengayomi mega
Tanpa bumi mega tak guna
Tanpa mega bumi meronta
Adam butuh hawa
Hawa pendamping Adam
Jangan kamu enyahkan mereka
(kamar 22:24 WIB 08.01.2009)
Setia
September 22nd, 2007 by neiy-hj
Ketika sebuah kesetiaan dipertanyakan dalam sebuah hubungan percintaan, akan muncul banyak argumentasi yang mendukung dan juga menolak akan hal tersebut. Kesetiaan, fidelity, atau la fidélité yang masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri namun hanya punya satu makna, adalah suatu hal yang menurutku ambigu untuk diungkapkan. Aku hanya dapat berpikir bahwa kesetiaan dapat didefinisikan sebagai suatu pengabdiaan penuh akan suatu hal. Kalau aku bisa hubungkan sebuah kesetiaan pada sebuah hubungan percintaan, kesetiaan dapat aku artikan mencintai sepenuh hati pasangan kita dengan memberikan yang terbaik yang kita miliki untuk pasangan kita tanpa mengharapkan sebuah pembalasan akan apa yang kita perbuat.
Mencintai dengan sepenuh hati….merupakan suatu hal yang sangat klise untuk diungkapkan. Tidak selingkuh, tidak bermain ‘api’ dengan orang lain, tidak bla bla bla bla and bla… yang whatever orang sering bilang tentang itu. Tapi ketika sebuah kesetiaan menjadi sebuah pertanyaan akankah kesetiaan berhenti sampai dengan definisi bahwa kita harus cinta penuh pada satu orang (dalam percintaan) tanpa harus membagi cinta kita pada orang lain selain dengan keluarga kita tentunya?
Hal itulah yang ingin aku pertanyakan. Akankah aku harus membelenggu diriku sendiri ketika aku merasakan bahwa rasa cintaku harus aku bagi dengan orang lain? Dosakah hal itu? bagi kamu yang idealis kamu pasti akan mengatakan bahwa hal itu memuakkan, tapi jika kamu mengalami hal itu, saat dimana kamu tidak dapat lagi terbelenggu oleh kesetiaan, kamu harus keluar dan memberikan hal itu pada yang kamu inginkan, apa yang akan kamu katakan pada idealis tentang sebuah kesetiaan?
Cinta, suatu hal yang absurd namun begitu dekat dengan kita, jika tidak ada cinta tidak mungkin lahir kata benci atau dendam. Dalam pembicaraan cinta, kita pasti akan membahas setia tapi jika setia itu hilang akankah cinta juga hilang? Jika kita memberikan cinta pada yang lain, akankah kita dikatakan tidak setia? pasti sebagian besar orang akan mengatakan bahwa kita tidak setia, pengkhianat, bla bla bla bla bla and bla….. jika kamu berpikir juga demikian, dapatkah aku mengatakan bahwa kamu itu picik? tidak…..tidak itu maksudku, maksudku mungkin memang wajar kalau kamu juga berpendapat demikian, tapi akankah sebegitu sempitnya hal tersebut?
Aku juga harus bingung jika aku ada di posisi tersebut, tapi aku juga tidak bisa mempersalahkan para “pembagi cinta” ( aku tidak mau mengatakan mereka pengkhianat cinta) jika ternyata mereka melakukan hal itu dan tidak mau dikatakan tidak setia. Aku juga sependapat dengan mereka karena belum tentu mereka lakukan itu salah, cinta memang harus dibagi, bagaimanapun perhitungan kadarnya dan kepada siapapun itu. Aku juga tidak bisa jika tidak membagi sayangku kepada orang yang aku ingin sayangi walaupun aku sudah punya kewajiban membelenggu rasa cintaku hanya pada orang tertentu saja.
Jangan pernah mempertanyakan kesetiaan jika kita memang masih berpikir sempit bahwa setia yakni membelenggu diri kita mengabdikan hati dan cinta kita hanya pada satu hal. biarkan cinta itu mengalir tanpa terbelenggu dan jangan pernah mencoba untuk membelenggu cinta karena cinta tidak pernah berarus dan berwujud hingga takkan pernah dapat kau belenggu.
Maafkan yang tidak dapat membelenggu cinta
hingga harus ‘tidak setia’
Balada Karet
Balada Karet
August 10th, 2006 by neiy-hj
In revision February 28th, 2009
Kenalkan, aku sebuah ban, lalu apa istimewanya? Yah aku memang hanya sebuah ban radial dengan harga sekitar 850 ribuan. Aku, saudaraku, dan kawan-kawanku hanyalah sebuah ban hitam yang terkadang berubah menjadi kelabu atau kecoklatan saat musim hujan.Kenapa warnaku harus hitam? Mungkin disamakan dengan nasibku yang hitam dan jalan aspal harus selalu ku lalu yang juga berwarna kehitaman dan mungkin pula karena masa depanku yang tidak memiliki setitik harapan suatu saat aku akan menjadi permata yang bercahaya. Yah.. aku memang hanya sebuah ban. Sepanjang hariku, aku menopang kotak besar yang bernama ‘mobil’. Saudaraku menopang sepeda dan dan sahabat lamaku menopang sepeda motor. Apapun yang kami topang, nama kami tetap sama yakni B-A-N.
Aku lahir dari pabrik terkemuka milik negara adi daya yang merampok bahan baku dari negara kaya namun miskin dengan hutan karet terluas namun tergunduli oleh perampok bangsa yang bodoh namun mengaku pintar di lintang tropis Benua Asia. Saat ini aku telah pindah dari tempat kelahiranku yakni PABRIK BAN ke dealer ban terkemuka di negara ini. Aku senang sekali pindah ketempat ini karena aku dapat melihat gadis seksi setiap hari apalagi saat aku dibawa untuk dipamerkan pada pameran otomotif di kota. Terkadang aku merasa jengah namun aku berusaha untuk menikmati pemandangan itu. Gadis-gadis lugu korban propaganda bodoh para lelaki yang berhasil merayu mereka untuk berpakaian minim dengan make-up yang baru akan hilang setelah 4 kali cuci muka dengan susu pembersih, sabun muka, dan cairan make-up remover dengan satu alasan… mendongkrak angka penjualan.
****
Saat ini nasibku berbeda, aku bukan lagi ban radial, aku bukan lagi seharga 850 ribuan, aku bukan lagi yang dipromosikan para gadis belia, lugu, namun pandir itu. Aku… aku tidak lagi ada pada rak bersih nan rapih itu. Kemarin aku telah pindah…
Hari ini pindah lagi. Setelah sehari yang lalu aku ada dibengkel Pak Tejo, sekarang aku harus pindah ke bengkel Bang Togar. Aku terkadang rindu dengan kehidupanku yang dulu, aku rindu berada dibengkel mobil terkenal, aku rindu menjadi tawaran sekian banyak orang dengan harga yang super mahal, aku rindu menopang tumpangan yang high class, aku rindu bersama teman-temanku membawa penumpang topanganku ketempat-tempat yang tidak terjamah oleh orang rendahan. Aku rindu semua itu. Tapi sekarang aku hanyalah sebagai penghuni bengkel butut yang tidak memiliki ‘harga’ sama sekali.
Dulu aku terkadang lelah terus berputar mengangkat beban dan berpanas-panasan dijalan raya serta kehujanan dan menginjak benda-benda nista. Aku dulu sempat benci dengan takdirku sebagai benda bulat yang harus bersama dengan teman-temanku menopang sebuah kotak besar yang ditumpangi oleh pejantan yang tidak begitu tangguh. Pergi melintasi kota metropolitan, atau mungkin sekarang yang berubah menjadi kota megapolitan. Bertemu dengan para kolega, atau mungkin malam hari aku harus mengantarkannya membeli kembang gula pinggir jalan. Terkadang aku dan teman-temanku muak melihat caranya menikmati kembang gula tersebut. Kami pikir begitu murahnya majikan kami hanya mampu membeli kembang gula pinggir jalan. Dia seorang eksekutif muda kenapa tidak mencoba kembang gula ditoko swalayan, ataupun kembang gula diwarung dekat rumah, kenapa yang dipinggir jalan? tidak ingatkah dia sebagai seorang selebriti dan eksekutif muda tidak boleh sembarangan membeli kembang gula pinggir jalan? Tidak pernahkah dia menonton pemberitaan televisi yang mengatakan bahwa kembang gula pinggir jalan banyak pengawet dan pewarna pakaian? kembali lagi dengan caranya menikmati kembang gula tersebut. Begitu menjijikkan. Begitu memuakkan. Terasa begitu tidak masuk akal. Dia lucuti satu persatu bungkus kembang gula tersebut, dia masukkan kedalam mulut dan dia nikmati sambil menyetel lagu yang sedikit jazz (padahal aku tahu majikanku tidak mengerti apa-apa tentang musik, apalagi musik jazz, musik berkelas), dia menikmatinya seperti tidak pernah merasakan sebutir kembang gula waktu kecil.
Aku mengerti tentang masa lalu majikanku yang begitu kelam sehingga kembang gulapun ia tak mampu untuk menikmatinya, bahkan kembang gula yang dijajakan ibunya sendiri, dan lebih parah lagi kembang gula yang ditawarkan oleh adik perempuannya sendiri.
Namun, aku terkadang merasa iba dengan para kembang gula tersebut dan tak jarang aku merasakan aku jatuh cinta pada salah satu diantara mereka. Mereka yang ternistakan oleh keadaan, mereka yang tidak dapat lari dri sebuah kenyataan pahit itu. Aku tidak dapat berbuat banyak selain dengan rasa yang tertegakan aku harus melihat mereka merelakan semua miliknya demi keinginan orang seperti majikanku yang tidak pernah merasakan hakikat manis yang sesungguhnya dari kembang gula.
Terkadang aku juga muak dengan diriku sendiri, aku dibeli dengan harga yang mahal, dipromosikan oleh gadis-gadis seksi, ditawar oleh eksekutif muda seperti majikanku sekarang ini. Tapi setelah itu aku hanya digunakan untuk menopang kotak besar, berputar setiap hari ditengah panasnya jalanan ibu kota, berputar ditengah debu dan asap, menginjak barang nista, dan seringkali mengantarkan pula ketempat nista. Membeli kembang gula.
Ingin rasanya aku memiliki kembang gula, mengulum mereka untuk diriku sendiri. Menyimpan mereka pada tempat yang teristimewa milikku. Tapi aku tidak bisa. Apalah artinya aku yang saat ini mungkin sama nistanya seperti mereka. Aku kotor, lusuh, bau, dan selalu berada dibawah. Walau aku tahu kalau aku sangat berarti bagi kotak besar berjudul mobil itu. Kalau tidak ada aku mana mungkin kotak itu bisa berfungsi layaknya sebuah mobil.
Tapi…
Hari ini nasibku tidak seperti beberapa tahun lalu, yang tersenyum manis ditengah-tengah jajaran ban radial dengan merk terkemuka, dipromosikan oleh gadis-gadis belia nan seksi. Tidak. Hari ini nasibku berubah. Majikanku menjualku bersama dengan kotak besar mewahnya, majikanku bangkrut, tidak punya uang lagi, dan tidak lagi mampu membeli kembang gula. Aku dilucuti bersama teman-temanku oleh pemilik toko gadai, aku dijual ketukang loak, aku berpisah dari teman-temanku, dan sekarang aku menjadi sebuah ban bekas. Hanya ban bekas.